Mediasi ke 2 PT MUTU diduga Serobot Tanah Milik Mantir Adat Dayak Seluas 14 Hektar Belum menemukan titik Terang

Kalimantan Tengah Exposkalteng.com  PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU) merupakan perusahaan batu bara bituminous thermal dan batu bara coking berkualitas tinggi yang memiliki hak pertambangan batu bara yang berlokasi di Kalimantan Tengah, Senin (25/12/2023).

Namun Dibalik itu, diduga banyak masyarakat setempat merasa di rugikan, khususnya untuk wilayah kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Lantaran akhir-akhir ini MUTU banyak konflik-konflik dengan mayarakat yang belum mampu di selesaikan oleh Managemen MUTU.

Salah satunya, MUTU diduga Serobot Tanah Milik Mantir Adat Dayak Amir Mahmud Seluas 14 Hektar, dan sampai 2 kali Mediasi belum menemukan titik terang.

Pada mediasi Pertama yang dilakukan di Kantor PT MUTU di Desa Wayun, Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Pada tanggal 13 Desember 2023,  Dimana Amir Mahmud dan warga setempat telah membuktikan Data atas Klaim Tanah miliknya.

Namun Pihak MUTU waktu itu meminta waktu 7 hari untuk membuka data yang dimiliki MUTU yang di klaim oleh Amir Mahmud dan Masyarakat setempat, tepatnya tanggal 21 Desember 2023.

#Mediasi ke 2

Mediasi ke 2 kembali dilakukan dikantor PT MUTU, dan di hadiri oleh Kepolisian setempat dan juga Perwakilan Masyarakat Sdr, Marianus.

Selain itu, juga dihadiri oleh saksi-saksi yang bersangkutan, Sdr, Sahrani Alias Adang, dan Sdr, Abeh Herwanto.

Dalam pembukaan mediasi yang dipimpin oleh Kepolisian setempat sebagai penengah, Mantir Adat Dayak Amir Mahmud langsung ke inti poin meminta Pihak MUTU menunjukan pembuktian data yang sebagai dasar MUTU berani menggarap Tanah yang miliknya.

Sebagaimana seperti hasil berita acara dalam mediasi pertama, Pihak MUTU berjanji akan menyuguhkan data overlay perbandingan supaya Apple to Apple, dan dalam mediasi kedua MUTU di wakili oleh Tim Ekternal Legal, Yaitu Dedi, Ali dan Heru.

Yang mana mereka adalah bukan orang yang bisa mengambil keputusan di perusahaan MUTU, karena hal inilah yang menyebabkan Perusahaan sebesar MUTU memiliki banyak konflik sosial dengan masyarakat setempat sampai berlarut-larut dan sulit terselesaikan.

Dalam mediasi ke 2, MUTU yang diwakili oleh Tim External legal Dedi, Ali dan Heru juga nampak belum ada persiapan matang, dan berbelit-belit dalam penyampaian data penuh dengan keraguan atas data yang dimiliki oleh perusahaan MUTU itu sendiri dan juga terlihat belum menyiapkan datanya saat Mediasi sehingga harus keluar masuk ruangan dan baru mencetaknya.

Dalam Forum pembukaan Mediasi Dedi menyampaikan terkait data sebagai perbandingan mengatakan“jadi dari data Pak amir kemarin itu sudah di itu, setelah disampaikan kemarin sudah saya pelajari, dan sudah mendapati dan memang ada dasarnya MUTU disitu mengakui adalah area yang sudah dibebaskan di area yang di klaim pak Amir dan warga lainya.”katanya.

“Oke langsung saja, akan saya sebutkan nama-nama yang sudah menerima taliasi dari PT MUTU ada Abeh Herwanto,Nandang, Rozali dan salah satunya adalah Abeh Herwanto yang ada di dalam area yang disampaikan oleh pak amir, jadi itu aja yang bisa saya sampaikan”jelasnya.

Dedi juga meminta kepada Mantir Adat Dayak Amir Mahmud untuk menjelaskan kenapa bisa ada tumpang tindih atau selisih secara data overlay dari SKT.

Dan Amir Mahmud mengetakan “Kemarin Saya sudah membawa SKT Asli, bukan hasil Fotocopy jadi pada dasarnya saya dapat itu adalah beli dari masyarakat dan sisanya itu Hutan belantara yang kita garap, dan saat saya menggarap waktu itu tidak ada titik-titik bekas penggarapan orang lain, sesuai dengan kita orang asli Dayak, disini itu kalau memang sudah Hak orang itu tidak boleh diganggu”jelas Amir.

“Soal yang bapak jelaskan tadi, silahkan saja Pihak perusahaan berurusan dengan orang yang menjual, itu tanah milik saya dan saya betul-betul menggarapnya dan riwayat penggarapanya ada, saya berani bersumpah itu tanah saya, dan saya asli Dayak tidak pernah mau mengganggu Hak orang lain” kata Mantir Adat Dayak Amir Mahmud.

Dan MUTU tidak menyangka, bahwa Amir Mahmud mendatangkan Abeh Herwanto sebagai saksi,dan Amir mengatakan” Bapak bilang tadi Abeh Herwanto,kebetulan beliau hadir disini sebagai saksi dan kebetulan beliau adalah sambitan dan tanda tangan diatas matrai semua saat itu”ucap Amir.

“Dan Maaf pak ya, kami disini saat bikin SKT itu ada Riwayat penggarapan, tidak unyuk-unyuk bikin SKT,kalau kita bikin SKT di hutan belantara berarti tidak ada Riwayat penggarapan”Beber Amir.

#Kesaksian Abeh Herwanto

Abeh Herwanto mengakui bahwa benar ia menerima itu, dan itu yang bagian Tanahnya saja, dan Abeh Herwanto mengatakan” Betul saya menerima itu bagian tanah saya, namun memang benar disamping-sampingnya waktu itu Hutan belantara”katanya.

“Benar kata pak Amir, waktu itu disana belum ada ladang orang, tanah saya cuma segitu saja kalau ada kurang atau lebih iya tanya sama mereka yang mengukurnya, saya cuma jual tanah hak saya, bukan jual hutan belantara, mana saya berani jual hutan belantara pak”kata Abeh.

Abeh juga menjelaskan secara detail bahwa mereka menggarap disitu sejak tahun 2000 an dan benar bahwa sebelumnya itu sudah di garap oleh Amir Mahmud waktu itu, dan tanahnya memang perbatasan dengan Tanah milik Amir Mahmud.

“Kalau tanah saya itu sudah dibebaskan memang, makanya nama saya ada disitu”kata Abeh.

#Cek dan Verifikasi Keaslian SKT

Kemudian, pihak PT. MUTU yang mulai kebingungan dan tegang terlihat dari expresi muka para team External yang mewakili PT. MUTU, pendamping Amir Mahmud saudara Luis mengatakan “Mohon maaf Pak Dedi, begini saja biar semua Apple to Apple tunjukan kepada kami bukti alas hak atau SKT yang PT. MUTU telah bebaskan atau sudah diberikan tali asih MANA, biar kita sama – sama bisa verifikasi karena dari nama – nama yang bapak jelaskan tadi ada Abeh Herwanto,Nandang, Rozali. Kebetulan ada Pak Abe Herwanto, kita berikan hak beliau untuk menverifikasi dokumen tersebut dengan kami karena dari pihak PT. MUTU mengatakan bahwa hak alas atau SKT kami setelah overlay disimpulkan oleh pihak PT. MUTU terjadi overlap. Biar kita cek benar gak, contoh misalnya tanda tangan, dll”Katanya

“Dari pihak kami pun di awal sudah memberikan dokumen alas hak atau SKT ke pihak PT. MUTU jadi seharusnya kita sanding dokumen, saksi, dll.”Ucap Luis.

Namun Dedi mengatakan “Begini pak, saya ini juga karena sesuai aturan, jadi yang bisa kami sajikan cuma sebatas ini saja pak.

Namun hal itu dianggap tidak Apple to Apple atau terlalu bertele – tele dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, kemudian Luis menjawab”Berarti itu tidak Apple to Apple pak, kami sudah menunjukan semua pembuktian” katanya.

Kemudian Dedi menjelaskan bahwa PT. MUTU akan membuka dokumen ketika permasalahan ini sudah masuk dalam tahap tindakan yang lebih lanjut lagi.

“Sesuai SOP kami akan membuka dokumen ketika sebuah permasalahan memasuki ke tahap tindakan lebih lanjut lagi”kata Dedi.

#MUTU dinilai tidak Fair dalam Mediasi

Saat ditanyai Luis soal SOP Pembebasan di PT. MUTU, Dedi mengatakan “jangan tanya soal SOP pembebasan, karna saya terus terang orang baru disini pak.

Kemudian Luis dengan tegas mengatakan ”OH… Jangan gitu pak jawabnya ; saya bertanya karena menurut saya ada kejanggalan dalam proses pembebasan lahan PT. MUTU, ya seperti tadi contohnya dengan Pak Abeh Herwanto. Bapak menjawab bapak orang baru jadi tidak tau apa – apa, ya gak mungkin pak sekelas atau sebesar PT. MUTU tidak mempunyai BANK DATA dan tidak mungkin tidak ada transfer data teknis dan non teknis dari team eksternal terdahulu. Lalu apa dasarnya bapak bekerja sekarang, jikalau tidak tau apa – apa karena orang baru. Gak fair donk pak buat kami apabila jawaban bapak seperti itu” Tegas Luis.

Dedi mengatakan akan membuka data setelah melakukan diskusi dulu dengan tim untuk membuka data itu dan yang disampaikan ini sesuai notulen.

Luis mengatakan ”Harusnya dilampirkan pak, biar Fair. Kemudian PT. MUTU menawarkan atur ulang perjanjian sedetail – detailnya. Akan tetapi Luis Jawab “Harusnya tidak seperti itu pak, kan sudah ada notulen harusnya tinggal pembuktianya. Sesuai notulen hasil identifikasi akan disampaikan, seharusnya dengan pembuktiannya buka hanya claim dengan peta saja mengatakan bahwa setelah overlay ternyata overlap dengan lokasi yang sudah dibebaskan.

“Mari kita runut dulu dari awal pak Dedi, kok bisa terjadi seperti keterangan bapak, katanya sudah dibebaskan. Kebetulan ada Pak Abeh Herwanto dan ini ada orangnya. Beliau mengakui persambitan dan beliau memang telah menjual atau menerima tali asih dari PT. MUTU sesuai haknya dan tidak menjual (membebaskan) haknya Pak Amir Mahmud” Kata Luis.

Dalam medisi mulai memanas, dan bahkan PT. MUTU yang diwakili oleh External legalnya terlihat masih bertele-tele, dan beralasan dengan nama-nama selain Abeh Herwanto, namun Pihak Amir Mahmud siap mendatangkan semua orang-orang yang terlibat dan tercantum didalam dokumen PT.MUTU.

Permintaan Amir Mahmud dan warga Setempat sangat simple, seperti perjanjian mediasi pertama, Pihak masyarakat sudah membuka data lengkap, namun sejauh ini Pihak perusahaan MUTU masih bertele-tele.

Hal tersebut terlihat jelas bahwa mereka kembali mengaitkan Nandang, yang mana masalah itu sudah clear di mediasi Pertama.

Kemudian Abe Herwanto mengatakan”Jangan sampai ya saya jual Tanah 2 Hektar disitu ditulis 10 Hektar,kalau sampai seperti itu sama saja menfitnah saya, hati-hati kalau salah-salah kalian bisa saya tuntut, itulah gunanya mediasi saling mencocokan data supaya menemukan titik terang”tegasnya

.

Dedi pun langsung mengatakan”Maaf pak abe ya, saya tidak menuduh bapak, cuma dalam data kita memang ada nama bapak, gitu pak, dan bapak juga pernah melakukan pembebasan kan, saya tidak menuduh bapak seperti apa dan apa, kita hanya mencari kejelasan” Terang Dedi.

Namun Luis pun berkomentar kembali, mengatakan “Makanya pak Dedi runut dari awal, kalau gak dirunut dari awal gak bakal dapat missnya dimana, data masyarakat sudah lengkap semua dan kami bisa mendatangkan semua saksi yang bersangkutan yang tercantum dalam data PT. MUTU yang bapak sebutkan tadi. Yang saya maksud kita runut dari awal contohnya gini pak juru ukurnya siapa dulu dari pihak PT. MUTU ya dihadirkan kita dengan keterangannya berapa luasan tanah milik Pak Abeh Herwanto sebenarnya yang di ukur bersama – sama dulu, benar gak 1,5 Ha atau memang lebih. Ya itu tadi pak klo mmg 1,5 Ha gak mungkin overlap dengan Pak Amir Mahmud ya klo lebih pasti overlap. Karena saya juga bingung yang bersangkutan hanya menjual seluas 1,5 Ha dengan 1 SKT, nah ternyata di data PT. MUTU Pak Abe Herwanto telah menjual lebih dari 1,5 Ha dan ada 2 SKT. Kemudian contohnya lagi kepada desa yang tanda tangan siapa, benar tidak Pak Abe Herwanto mengajukan 1 SKT saja atau 2 SKT dan luasnya berapa jangan sampai jadi fintah ke beliau. Biar jelas makanya saya katakan kita runut kembali supaya jelas semuannya.”kata Luis.

#Masyarakat Minta Solusi dalam Mediasi

Akhirnya para External Legal MUTU kembali cek data, memastikan ada berapa nama dari masing-masing Warga yang melakukan pembebasan lahan.

Kemudian pihak MUTU kembali konfirmasi bukti-bukti yang dimiliki oleh Abeh Herwanto, dari membebaskan lahan berapa Hektar dan bukti apa saja yang di pegang.

Namun jawaban dari Abeh Herwanto sederhana “Tidak ada dokumen, hanya dikasih kuitansi dan tanda tangan sudah kemudian dibayar” hal tersebut memunculkan pemikiran liar dari masyarakat, bahwa proses pembebasan lahan yang dilakukan oleh Perusahaan sebesar MUTU seperti tidak profesional.

Namun dalam Data yang dimiliki oleh MUTU ada surat pernyataan dari para pemilik lahan yang dibebaskan, anehnya lagi Abeh Herwanto merasa tidak pernah membuat pernyataan tersebut.

Akan tetapi MUTU memiliki data itu, yang ditanda tangani oleh Abeh Herwanto, saat di croscek oleh Abeh Herwanto ternyata ia tidak merasa membuat atau menandatangani surat pernyataan tersebut.

Ditambah lagi, klaim dari Masyarakat data milik MUTU banyak yang salah-salah, dan dianggap oleh masyarakat bahwa itu tidak sesuai realita sehingga, Abeh Herwanto meminta untuk memotret Data yang ada namanya yang dimiliki oleh MUTU untuk dicroscek kembali kebenaranya, karena ia merasa tidak memiliki data tersebut namun Pihak MUTU enggan memperbolehkan.

Yang mana, dalam data MUTU Abeh Herwanto membebaskan lahan 2 area, akan tetapi bukti yang dimiliki oleh Abeh Herwanto sesuai realitanya hanya 1 area.

Sehingga hal tersebut membuat saudara Abeh Herwanto merasa keberatan, dan pihak kepolisian setempat pun menganggap hal itu wajar, karena itu adalah Hak setiap orang jika ada suatu hal yang tidak sesuai dan merasa keberatan itu hal yang wajar.

Kemudian pihak kepolisian setempat setuju dengan keputusan MUTU bahwa terkait data tersebut ada waktu dan tempatnya yang tepat untuk mebeberkan data itu, karena ada Rahasia perusahaan yang harus di jaga, kemudian pihak kepolisian memberikan edukasi kepada dua belah pihak untuk mencari solusi yang tepat karena itulah fungsinya mediasi.

#Deadlock

Hasil mediasi kedua sementara masih (Deadlock) Keadaan dimana sejumlah permintaan yang tidak bisa dijalankan oleh scheduler karena permintaan-permintaan tersebut saling tunggu menunggu.

Sehingga Pihak MUTU meminta waktu kembali dalam seminggu untuk melakukan mediasi lanjutan, guna untuk verifikasi ulang, dan pihak MUTU secara data siap untuk di next mediasi lanjutan.

Pihak MUTU melalui Ali menjelaskan bahwa mereka hanya mengikuti dan menjalankan sesuai Prosedur Perusahaan, ia menjelaskan bahwa Pihaknya yang ada saat ini adalah bukan orang yang bisa mengambil keputusan. Dan untuk saran dari MUTU bahwa untuk mediasi Lanjutan akan didatangkan semuanya yang bersangkutan pihak terkait dan sedetail-detailnya.

Padahal Keinginan Pihak Masyarakat hal ini Amir Mahmud sangat sederhana yaitu dilakukan pembuktian secara langsung dilapangan dengan menghadirkan pihak yang menerima Tali Asih berdasarkan SKT yang tumpang tindih dengan SKT Miliknya (Amir).

#Permintaan Mantir Adat Dayak Amir Mahmud

Dalam negosiasi dalam mediasi ke 2 antara Pihak MUTU dan Mantir Adat Dayak Amir Mahmud beserta warga setempat sepakat, namun ada beberapa hal yang menjadi permintaan dari Amir Mahmud.

“Pertama, Dalam perusakan Tanah milik saya itu tanggung jawabnya seperti apa, dan kedua masalah yang persoalan menjual tanah itu urusan bapak, silahkan saja karena saya hanya mempertahakan Hak saya, dan kemudian hari ini saya minta bikin surat kesepakatan, karena kemarin tidak tertuang, dan pada intinya saya meminta sebelum perkara ini selesai jangan di garap khusus di area tanah milik saya itu, kalau bapak memaksa menggarap berarti ada apa”ucap Amir.

“Dengan perjanjian, jika kami melanggar dan melakukan pemortalan, kami siap di proses secara hukum dan juga sebaliknya”Tegas Amir.

# MUTU : Status Quo

Namun pihak MUTU melalui Ali menjawab “Izin menanggapi pak, kalau penyampaian soal tidak boleh menggarap itu kan kita sama-sama punya bukti dan alasan ini pak, kan masih Status Quo dan belum ada pemutus bahwa kalau itu adalah Haknya Pak Amir atau Haknya Perusahaan, jadi menurut saya sih kurang tepat pak.Karena hal ini  masih belum bisa dibuktikan pak, statusnya itu milik pak amir atau milik perusahaan pak” kata Ali.

Namun Amir mahmud menanggapi balik dan mengatakan “Berarti cuma saya dong yang dirugikan, kalau permintaan itu tidak bisa dipenuhi, kan saya cuma meminta khusus area milik saya saja, tidak menutup jalan dan toh bisa menggarap yang lain selain area tanah milik saya”kata Amir.

Kemudian Pihak kepolisian setempat meluruskan hal tersebut dan menjelaskan bahwa antara itu mau status Quo dan ataupun seperti yang dimaksud oleh Amir Mahmud adalah di area khusus yang di klaim milik Amir Mahmud kepada Ali dari External Legal yang mewakili Pihak MUTU supaya masyarakat tidak berpikir ada salah satu yang dirugikan itu seperti apa dan gimana enaknya.

Lantaran hal tersebut semua Masyarakat mengakui bahwa dilokasi tersebut masih ada aktivitas dan sudah habis digarap oleh MUTU, hal ini menjadi kontoversial dan tanda tanya oleh masyarakat, namun Pihak MUTU tetap bersikeras untuk tetap bisa menggarap lokasi tersebut sampai benar-benar di putuskan itu milik Amir Mahmud atau milik Perusahaan sehingga tetap Deadlock.

#Tanggapan Perwakilan Masyarakat Sdr, Marianus

Marianus memaparkan terkait sengketa yang selalu tidak pernah selesai di PT MUTU, ia juga bercerita bahwa di tahun 2020 ia pernah melakukan aksi yang serupa dan ditempat yang sama di PT MUTU.

“Mengingat tahun 2020 saya melakukan aksi didepan sini (Kantor PT MUTU) kemarin,Terkait Sengketa selalu tidak pernah selesai di PT MUTU ini, tidak pernah terselesaikan, baik dari orang lama atau orang baru sampai sekarang belum juga selesai-selesai, dan ini sudah jelas bahwa ini Hak Beliau (Amir Mahmud) beliau tidak pernah jual tapi kok lahanya di garap, itu dasarnya apa”Kata Marianus.

Ia juga mengatakan bahwa soal data-data yang dimaksud,data  itu semua bisa saja dibuat-buat tapi perlu di ingat Bahwa “Orang Dayak ini beradat, kalau sudah mengatakan kepemilikan kalau dicek itu bukti fisiknya ada kita belum bicara kesana, jadi intinya, jangan sampai permasalahan-permasalahan seperti ini, digiring terus ke atas, sampai  ke pengadilan yang ujung-ujungnya tidak pernah selesai-selesai.

“Sudah sering terjadi seperti itu ditanah kami orang Adat Dayak ini, Perusahaan ditanya dilempar ke pangadilan, ujungnya tidak pernah selesai, jadi harapan kita ini semua permasalahan itu bisa diselesikan secara mediasi”Kata Marianus.

“Mediasi ini kita disinilah kita sanding Data, ada gak sih data-data di setiap perusahaan, kita atau kami orang Dayak itu juga punya Hukum Adat, itu yang tidak bisa dibeli, kalau Hukum-hukum yang lain bisa dibeli, jangan sampai kami merasa capek di beginikan terus, maka kami terpaksa akan gunakan Hukum Adat kami nanti, Mayarakat ini sudah capek tidak pernah di pikirkan” Tegas Marianus.

Tidak ada orang dari luar itu datang kesini bawa segenggam tanah itu, Kata Marianus lebih lanjut “tiba-tiba orang yang punya tanah disitu yang memang Asli Dayak dan tanah itu hasil titik keringatnya mengerjakan ladang segala macam kok hilang, kuharap paham, dan segera diselesikan, itu saja, Terima kasih”ucap Marianus.

#Sepakat Dilakukan Mediasi ke 3 (Datangkan Pimpinan Perusahaan/Pengambil Keputusan)

Setelah proses Negosiasi Panjang dalam mediasi akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk melakukan mediasi ke 3 dengan mendatangkan Pihak-pihak Perusahaan yang bisa mengambil keputusan.

Namun hal itu dengan catatan beberapa poin sebagai berikut : Poin pertama, Akan diadakan mediasi kembali yang menghadirkan saksi-saksi, pihak yang menjual ke PT MUTU, Muspika,dan pihak lain yang bersangkutan pada obyek lahan yang dimaksud pada tanggal 2 Januari 2024 di Polsek Gunung Bintang Awai (GBA) dengan membawa dokumen pendukung masing-masing Pihak.

Poin kedua, Pihak Amir Mahmud meminta yang hadir pada poin pertama  adalah Pimpinan dan pengambil keputusan dan Poin ketiga, selama proses menuju mediasi pada poin pertama pihak Amir Mahmud tidak melakukan portal.

Setelah usai Mediasi Mantir Adat Dayak Amir Mahmud dikonfimasi mengatakan “ Hasil akhir mediasi tadi, kita berupaya keras ingin adil, namun Pihak MUTU meminta keringanan sampai tanggal 2 diadakan pertemuan untuk mediasi kembali di Polsek GBA dengan catatan mereka wajib menghadirkan Pimpinan dan pengambil keputusan, supaya tidak berlarut-larut.

Sedangkan Abeh Herwanto saat dikonfirmasi terkait soal menjual 2 area lahan seperti di sampaikan oleh Pihak MUTU mengatakan “Saya memang betul ada menjual sebidang tanah, tapi itu sebatas area saya, dan saya merasa tidak pernah menjual Hutan belantara”Kata Abeh.

“Seperti yang disampaikan oleh MUTU tadi bahwa menjual tanah 2 kali itu tidak benar, saya tidak pernah menjual tanah sampai 2 kali cuma 1 kali, soal data MUTU tadi yang disampaikan dan tadi sempat saya lihat itu sudah melebihi yang saya jual pak”Terang Abeh.

“Dan itu saya sangat-sangat keberatan pak, sedangkan data yang dikeluarkan oleh MUTU yang kedua dengan atas nama saya tadi bahwa orang yang bersambitan di dalam situ saya saja tidak kenal,  tapi orang tersebut menjual tanah mengatas namakan nama saya” Pungkas Abeh.

Sedangkan Marianus Perwakilan Masyarakat saat dikonfirmasi mengatakan “Terima kasih, hari ini kita mengupayakan untuk mediasi penyelesaian lahan masyarakat, dan saudara Bapak Amir yang mana permasalahan lahan  beliau yang diduga di serobot oleh Pihak perusahaan PT MUTU, pada hari ini kita turut mendampingi penyelesian terkait lahan ini, dan mudah-mudahan artinya permasalahan ini segera cepat selesai, karena ini mutlak Hak masyarakat yang semestinya harus diperhatikan oleh beberapa pihak, termasuk pihak perusahaan PT MUTU agar segera di selesaikan, termasuk semua permaslahan-permasalahan yang ada pada wilayah Kabupaten Barito selatan, itu saja yang bisa saya sampaikan, Terima Kasih.

Sedangkan Pihak PT MUTU masih belum bisa berkomentar, Demikian.

Laporan oleh Assjian dan Tim Investigasi Expos Kalteng; Laporan Tambahan oleh Ariy Sandiy dan Jumaidi; Penyuntingan oleh Riyon dan diamati oleh Tim Penasehat Hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button