Misi Suci Tewah 7 Arwah Tuntas di Pesona Maduhara

PALANGKA RAYA –ExposKalteng.com— Misi suci menerbangkan tujuh arwah leluhur melalui upacara adat Tewah telah berhasil diselesaikan dengan sempurna pada Jumat (17/7/2026). Gelaran dua hari yang bertempat di Perumahan Pesona Maduhara ini berlangsung khidmat, tertib, dan bebas dari gangguan.
Rasa syukur yang mendalam menyelimuti hati keluarga besar tuan rumah pasca-acara. Mereka merasa bangga karena dapat menjalankan kewajiban adat sesuai dengan pakem tradisi Dayak Ngaju yang sangat ketat dan sakral.
Ritual dimulai pada Kamis (16/7/2026) dengan serangkaian doa pembuka dan pembersihan area suci. Tahap awal ini menjadi pondasi spiritual yang kuat sebelum memasuki prosesi inti pada hari berikutnya.
Puncak perayaan ditandai dengan penyembelihan tujuh ekor kerbau pilihan pada Jumat (17/7/2026). Hewan-hewan tersebut disiapkan sebagai bekal utama bagi arwah dalam perjalanan menuju alam keabadian atau Lewu Tatau.
Setiap bagian tubuh kerbau yang dikurbankan memiliki nilai filosofis yang dalam. Darah dan dagingnya diyakini sebagai penebusan dosa serta sarana transportasi gaib bagi roh leluhur.
Momen paling sakral terjadi saat pemindahan sisa jenazah ke dalam tempelau. Wadah keramat tersebut kemudian dinaikkan ke atas patung Sapundu yang berdiri kokoh di tengah arena ritual.
Basir Bambang Irawan memimpin jalannya upacara dengan penuh kewibawaan dan ketelitian tinggi. Ia memastikan setiap mantera dan nyanyian tatak dilantunkan sesuai aturan agar arwah merasa tenang dan diterima.
Tujuh leluhur yang diterbangkan meliputi Marlin J., Matan, Ajir Agan, Luas Demen, Ngawang, Maliana, Ucue, dan Atie. Nama-nama mereka terus didoakan sepanjang prosesi berlangsung untuk keselamatan perjalanan mereka.
Keputusan menggabungkan tujuh arwah dalam satu acara dinilai sangat efisien oleh pihak keluarga. Langkah strategis ini juga berhasil mempererat tali silaturahmi antar anggota keluarga besar yang tersebar.
Tuan rumah menyatakan kepuasan luar biasa atas hasil pelaksanaan acara di Perumahan Pesona Maduhara. Perhatian terhadap detail kecil selama persiapan terbukti membuahkan hasil yang maksimal dan memuaskan.
“Kami sangat bahagia karena semua berjalan tertib, termasuk penyembelihan tujuh kerbau. Ini adalah wujud cinta kami kepada leluhur,” ungkap tuan rumah dengan nada lega dan haru.
Semangat gotong royong terlihat sangat kental sejak tahap persiapan hingga hari pelaksanaan. Keluarga bahu-membahu menyiapkan hidangan khas, membersihkan lokasi, dan merakit properti adat dengan teliti.
Dukungan dari komunitas sekitar memberikan warna hangat dalam perayaan ini. Tetangga dan kerabat jauh turut membantu, menunjukkan bahwa nilai kekeluargaan masih sangat kuat di masyarakat urban.
Patung Sapundu dengan ukiran tradisional menjadi pusat perhatian seluruh peserta upacara. Simbol ini diyakini sebagai tangga suci bagi arwah untuk mencapai alam atas setelah melewati berbagai rintangan gaib.
Lantunan nyanyian tatak yang merdu menciptakan suasana spiritual yang sangat mendalam. Setiap lirik doa mengandung harapan agar arwah diterima dengan baik dan tidak kembali ke dunia fana.
Para peserta tampak khusyuk mengikuti setiap tahapan ritual tanpa melakukan kesalahan sedikitpun. Hal ini menandakan koordinasi yang sangat matang antara panitia keluarga dan pemuka adat yang berpengalaman.
Keluarga besar merasa lega karena tidak ada gangguan teknis maupun non-teknis yang berarti. Kondisi lokasi di Perumahan Pesona Maduhara sangat mendukung kelancaran prosesi luar ruangan yang melibatkan banyak orang.
Peran Basir Bambang Irawan sangat krusial dalam menentukan kesuksesan acara ini. Bimbingannya menjamin bahwa aspek spiritual dan teknis adat terpenuhi dengan sempurna sesuai tradisi leluhur.
Tuan rumah mengucapkan terima kasih atas dukungan moral dan material dari berbagai pihak. Bantuan tersebut sangat membantu dalam pengadaan tujuh ekor kerbau berkualitas untuk keperluan kurban.
Generasi muda yang hadir tampak antusias mempelajari filosofi di balik setiap gerakan ritual. Minat mereka menjadi sinyal positif bagi upaya pelestarian budaya Dayak Ngaju di era modernisasi.
Upacara Tewah kali ini bukan sekadar rutinitas wajib, melainkan ekspresi spiritual yang tulus dan ikhlas. Keluarga berharap arwah leluhur dapat mencapai ketenangan abadi di Lewu Tatau bersama pendahulu lainnya.
Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah seluruh anggota keluarga usai acara berakhir. Mereka merasa tugas suci mengantarkan leluhur telah diselesaikan dengan martabat, kesempurnaan, dan kemewahan adat.
Kesuksesan ini membuktikan bahwa tradisi adat tetap relevan dan dapat dikelola dengan baik di masa kini. Manajemen yang rapi memungkinkan ritual sakral dilaksanakan secara tertib, aman, dan bermakna bagi semua pihak.
Dengan selesainya upacara Tewah, keluarga dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan hati yang lebih tenang. Beban spiritual telah terselesaikan melalui prosesi yang agung dan penuh makna persaudaraan.
Palangka Raya kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya lokal yang luhur. Keberhasilan Tewah di Pesona Maduhara menjadi inspirasi bagi masyarakat lain untuk menjaga warisan leluhur dengan bangga.
(Lukmi)







